Rabu, 11 Mei 2016

Sudah Dewasa Anakmu Ma..

Masih pagi sekali, tidak biasanya Mama menghubungi aku via Whatsapp. Nampaknya penting sekali, karena sampai 3 notifikasi masuk di HP ku, bertuliskan Mama mengirimkan pesan sampai 3 kali. Sambil mempersiapkan diri untuk berangkat kerja aku coba membaca satu per satu pesan tersebut. Ternyata memang pesan yang sangat penting, Mama sedang sedih saat ini. Mama tiba-tiba teringat bahwa saat ini semua anak-anaknya telah tumbuh dewasa, termasuk aku, yang sudah 4 tahun ini pergi meninggalkan rumah untuk bekerja. Mama berkata bahwa dia ikhlas aku untuk menikah di tahun ini. Namun ada satu hal yang membuat Mama agak berat apabila aku menikah kelak. Dia takut akan kehilangan sosok anak laki-laki satu-satunya. Mama takut jika aku menikah kelak maka aku akan lupa akan rumah dan lebih memilih istriku daripada dia. Mama berkata mungkin saat ini di rumah masih ada adikku, anak terakhir di keluarga kami. Namun cepat atau lambat adikku juga pasti akan pergi meninggalkan rumah, entah untuk bekerja atau mengikuti suaminya kelak.

Langsung saja aku berangkat lebih pagi ke kantor. Aku berharap tidak terlambat ke kantor dan berencana setibanya di kantor aku langsung bisa menelponnya. Aku menjadi orang yang datang awal di kantor, di saat meja-meja lain masih kosong karena pemiliknya belum datang. Segera aku menelpon Mama sesampainya aku di kantor. Dengan suara sedihnya dia kembali bercerita kembali bahwa dia benar-benar takut kesepian, takut jika suatu saat anak-anaknya pergi meninggalkan rumah satu per satu. Mendengar suaranya aku tahu bahwa Mama saat ini sedang menangis di sana. Mama benar-benar takut akan kehilangan anak-anaknya dan hanya tinggal berdua dengan Ayah kelak. Mama tersadar bahwa semua anak-anaknya telah tumbuh dewasa. Kakakku, sudah mempunyai dua anak sekarang. Aku sudah 4 tahun meninggalkan rumah untuk bekerja. Dan adikku, saat ini dia baru saja menyelesaikan Ujian Nasionalnya, yang menandakan bahwa beberapa bulan lagi dia akan memasuki masa-masa kuliah. Mama tidak tahu, dimana adikku akan kuliah nantinya. Apakah tetap di Surabaya, atau akan mengikutiku keluar dari rumah. Kemungkinan adikku yang bisa saja kuliah di luar Surabaya ini lah yang membuat Mama semakin sedih. Namun apa mau dikata, Mama tidak bisa menahannya. Menahan adikku agar harus tetap berkuliah di Surabaya sama dengan menahan cita-citanya. Padahal adikku ini mempunyai semangat belajar paling tinggi dibanding dengan aku dan kakakku.

Mama juga takut, jika aku menikah kelak aku akan lebih mencintai istriku daripada dia. Mama takut jika aku tiba-tiba 'hilang' begitu saja meninggalkannya. Mama takut aku menikah dengan orang yang salah, sehingga nanti istriku akan merebutku begitu saja dari dia. Dengan penuh hati-hati aku meyakinkan Mama bahwa aku berusaha untuk tetap ada untuknya, walaupun aku sudah menikah kelak. Aku selalu meyakinkannya bahwa aku akan menikah dengan wanita yang tepat. Wanita yang kelak tidak hanya mencintai aku saja, tapi dengan Mama juga.

Aku akan selalu ingat pesanku kepada Mama. Waktu terus berjalan, usia pun juga ikut bertambah. Kami anak-anaknya pun juga akan ikut bertambah dewasa. Suatu saat kami semua akan memiliki jalan hidup kami masing-masing. Tapi kami tidak akan melupakan Mama, kami tidak akan pernah lupa kasih sayangmu. Kami akan selalu ingat akan rumah, kami pasti akan selalu ada untuk Mama. Mungkin jarak yang memisahkan kami denganmu, namun cinta dan kasih sayang seorang ibu kepada anak-anaknya akan selalu menghangatkan kami dan selalu mengingatkan kami akan rumah tercinta.